Go Green for Small Business...!
Go Green for Small Business...!
Ditulis oleh Riyanto Suwito
Sudah bukan isu baru jika saat ini kita banyak mendengar berbagai anjuran baik dari pemerintah, lembaga atau asosiasi pecinta lingkungan dan bahkan lembaga publik pada umumnya - sudah menyadari satu hal - yaitu kebutuhan untuk menjaga alam dan kelestariannya atau kita akan musnah dalam beberapa dekade ke depan. Apakah ini sebuah sikap reaktif setelah melihat begitu banyaknya kerusakan di muka bumi ini? ataukah memang sebuah bentuk kesadaran akan pentingnya keseimbangan antara alam dan manusia sebagai sebuah syarat keberlangsungan sebuah daur kehidupan (life cycle).
Memang salah satu pihak yang dituding sebagai pihak yang paling bertanggung jawab adalah negara-negara maju (baca: kapitalis) dengan perusahaan/korporasi raksasa-nya yang dianggap telah menggerus sumberdaya dengan semena-mena. Tapi disisi lain ada juga tudingan bahwa negara berkembang justru yang tengah getol-getolnya "merusak alam" tanpa ampun. Ini dilontarkan negra maju - karena mereka merasa sudah mulai sadar - dan karenanya sudah mulai menerapkan CDM (Clean Development Mechanism) yang artinya sudah sadar diri dan mulai melakukan tindakan "pencegahan yang terlambat" untuk diri mereka sendiri - dan berharap negara lain bertindak lebih preventif.
Ini tidak berbeda dengan kasus seorang kakak yang menasehati adik remajanya, "dik, janganlah berbuat begitu - nanti kau akan menyesal..!?" Kakak sudah merasakan akibatnya, dan sekarang kakak sudah bertobat - tidak akan melakukan hal itu lagi. Begitulah kira-kira yang sedang terjadi dalam pergaulan internasional, dimana negra maju berusaha untuk bertobat dan mengingatkan negara berkembang untuk tidak mengulang kesalahan mereka di masa lalu. Atau perusahaan besar (korporasi) yang mengingatkan para pengusaha kecil agar tidak mengulang kesalahan-kesalahan mereka serta lebih baik belajar dari pengalaman mereka.
Lantas bagaimanakah sikap kita jika kebetulan berada dalam posisi sebagai si kecil yang sedang dinasehati..?! Sama seperti jika kita sebagai adik mendapatkan nasehat dari kakak atau senior kita? Idealnya, sikap seseorang yang tengah mendapatkan nasehat adalah memperhatikan dengan seksama - merenungkan kembali apakah nasehat tersebut memang benar adanya - dan pada akhirnya kita belajar untuk tidak mengulang kesalahan yang sama tersebut. Tetapi ini adalah idealnya, dan pada kenyataannya memang tidaklah mudah untuk bertindak dan berbuat ideal di dunia (tempat yang tidak ideal).
Akan tetapi, sebenarnya tidak ada hal yang terlalu mudah untuk disepelekan - sekaligus tidak ada yang terlalu sulit untuk dikeluhkan..!? Mungkin sebagai pengusaha kecil anda bisa saja menggerutu dan mengeluh, "enak saja sampean bilang begitu - lha wong sudah kaya..sudah dapat banyak..lha saya..??" Atau mungkin anda mengeluh, "mereka bisa dengan mudah mengganti komputer yang lama dan boros dengan komputer baru dan monitor LCD yang irit listrik karena mereka punya banyak uang, sedangkan kami..komputer butut satu tapi rusaknya banyak itu saja dapat beli dengan cara kredit...!?"
Saya tidak akan menyalahkan anda dengan sikap semacam itu, karena itu manusiawi. Justru saya ingin memberikan sebuah alternatif cara berfikir yang berbeda. Salah satunya dan sudah pernah saya tuliskan dalam artikel di web ini sebelumnya yaitu dengan cara berbagi sumber daya (resource sharing). Jika perusahaan besar atau korporasi berpikir untuk memiliki sendiri sebuah aset (mesin, peralatan, sistem dll) adalah sebenarnya dilandasi oleh pemikiran untuk melakukan efisiensi - baik biaya maupun sumber daya lainnya - maka semestinya kitapun sebagai pengusaha kecil bisa berpikir sama tetapi dibalik.
Mengapa kita tidak menyewa atau berbagi pakai sebuah aset yang semestinya tidak bisa kita pergunakan secara penuh (full capacity). Dengan demikian sebenarnya kita telah melakukan sebuah efisiensi biaya dan modal - dan ini berimplikasi pada penghematan sumber daya secara umum - termasuk sumberdaya manusia dan alam. Bayangkan jika sebuah mesin atau peralatan yang bisa memenuhi kebutuhan dua pengusaha atau lebih hanya beroperasi sekali. Otomatis biaya operasi yang dibutuhkan hanya sekali saja. Bandingkan dengan mesin atau peralatan yang sama jika dimiliki dan dioperasikan oleh masing-masing pengusaha kecil dengan kapasitas tidak penuh - tetapi tetap memakan biaya operasional yang sama - sehingga secara agregat telah terjadi dua atau tiga kali lipat operasional yang sama. Bahasa yang lebih mudahnya telah terjadi pemborosan - dan dari sisi matematis saja jelas tidak menguntungkan - apalagi dari perspektif lingkungan dan sebagainya.
Jika operasi tersebut menggunakan bahan bakar, maka berarti telah terjadi penggunaan tiga kali lipat bahan bakar untuk hasil atau output produksi yang sama dengan satu mesin/peralatan untuk dipakai bersama. Apakah tindakan semacam ini ramah terhadap lingkungan?

Bergabung bersama TDA Jogja